Lompat ke isi
Bani KH. Ibrahim Ghozali

Sejarah Singkat Kehidupan

الشيخ الحاج إبراهيم غزالي

Riwayat KH. Ibrahim Ghozali

KH. Ibrahim Ghozali dikenang dalam sejarah keluarga dan kajian manuskrip sebagai ulama Ponorogo, penghafal Al-Qur’an, serta penyalin mushaf yang meninggalkan warisan ilmu dan hubungan kekeluargaan.

Bab 1 · hlm. 8

Asal Usul KH. Ibrahim dan Sejarah Kehidupannya

KH. Ibrahim adalah putra pertama dari istri pertamanya KH. Ghozali bin K. Nawawi (Majasem) bin K. Khotib Anom (Srigading-Kalambret-Tulung Agung) bin K. Anom Besari (Kuncen-Caruban-Madiun) bin P. Satmata Al-Alim atau K. ’Arobi (Surabaya).

Beliau dilahirkan di Desa Cokromenggalan sebelah barat kota Ponorogo ± 2 Km (kota lama) atau sekarang sebelah timur kota Ponorogo ± 2,5 Km, pada tahun 1812 dari pasangan KH. Ghozali dengan Ny. Majasem.

Bab 2 · hlm. 8

Haji dan Nyantri di Makah

Ketika masih usia kanak-kanak KH. Ibrahim, selalu belajar dengan tekun kepada ayahandanya sendiri, tentang membaca dan menulis huruf Arab, karena pada saat itu belum ada pendidikan formal seperti zaman sekarang. Dan yang terutama adalah belajar Al-Qur’an karena KH. Ghozali ayah Ibrahim adalah seorang yang ‘alim dan hafidl Al-Qur’an dan memiliki pesantren sendiri di Ds. Cokromenggalan. Setelah menginjak usia remaja Ibrahim di pondokkan di Pesantren Tegalsari, Jetis, Ponorogo arah selatan dari desanya ± 8 Km, yang mana kala itu di asuh oleh K. Ageng Raden Hasan Besari. Diantara santrinya yang saat itu adalah Raden Ngabai Ronggowarsito, seorang pujangga keraton Solo yang sangat terkenal sampai zaman sekarang ini. Konon sepulang dari Tegalsari Ibrahim agak memadai ilmunya, sehingga oleh bapaknya di tugaskan membantu mengajar di pesantrennya sendiri di Cokromenggalan. Setelah usianya semakain dewasa, oleh ayahnya di jodohkan dengan santri putri di pesantrennya yang bernama Ny. Sudjinah. Santri putri ini sangat rajin, tawadlu’ dan manut dalam berkhidmah kepada kyainya. Oleh karenanya, K. Ghozali langsung mengambilnya sebagai menantu, dan sekitar tahun 1840 M. Ibrahim menunaikan rukun Islam ke 5 yaitu ibadah haji berangkat ke tanah suci Makah al-Mukaramah tanpa di ikuti istrinya.

Saat perjalanan ke tanah suci ibadah haji ke Makah beliau menggunakan kapal layar melalui pelabuhan Tanjung Perak Ujung Surabaya dan memang hanya itulah satu-satunya alat transportasi yang ada saat itu yang di tongkangi orang-orang Madura. Pemberangkatannya di waktu itu tepat setahun sebelum masuk bulan Dzulhijjah.

Setelah tiba di Makah beliau di samping melaksanakan ibadah haji juga memperdalam Tafsir Al-Qur’an dan Hadits juga Ilmu-ilmu Fiqih bermadzhab Syafi’i. Bahkan juga memperdalam hafalan Al-Qur’an yang merupakan cita-cita langka di tanah Jawa ketika itu. Karena memang di Jawa saat itu belum ada guru yang membimbing hafalan Al-Qur’an.

Orang-orang yang sezaman dengan Ibrahim, orang Indonesia yang belajar di Makah ketika itu adalah Syaikh Ahmad Khotib (Minangkabau), Ustadz Basuni Imran (Brunai Darussalam), Syaikh Muhammad Nawawi Bantani (Banten), Syaikh Mahfudl (Termas-Pacitan Jawa Timur), KH. Syamsul Arifin (Situbondo) ayah K. As’ad. Mereka itu sama menjadi tokoh dan Ulama’ tersohor di Indonesia.

Ibrahim belajar di Makah selama 8 tahun, beliau selama belajar disana disamping mendalami ilmu-ilmu agama juga belajar ilmu tulis menulis huruf Arab yang indah, khoth dan kaligrafi. Karena Ibrahim ketika nyantri di Pondok Tegalsari termasuk santri yang rajin tulis menulis. Banyak sekali kitab-kitab peninggalannya yang sampai sekarang ini masih ada. Walaupun tulisannya belum bisa dibilang bagus, tetapi rapi dan mudah dibaca. Dan setelah belajar Khoth dan kaligrafi di Makah tulisan Ibrahim sangat bagus kalau tidak bisa di katakan luar biasa. Semua itu bisa di lihat di dalam rak musium kitab peninggalan al-marhum KH. Ibrahim di lingkungan masjid Bedi, Polorejo, Babadan Ponorogo.

Bab 3 · hlm. 9

Tumenggung Polorejo Raden Brotonegoro

Pada tahun 1765 Polorejo resmi menjadi kota Kabupaten, dengan bupatinya yang pertama ialah putra Surodiningrat I bupati Ponorogo yaitu Raden Tumenggung Brotonegoro. Pusat pemerintahan kabupaten terletak di Dukuh Dalem Ds. Polorejo, sekarang Jl. Srigading.

Sekitar tahun 1824 ada utusan seorang senopati keraton Solo mengadakan kunjungan ke Katemenggungan Polorejo, karena memang saat itu kabupaten Polorejo di bawah kekuasaan keraton Solo. Ketika selama kunjungan di Polorejo senopati itu tertarik akan kecantikan putrinya tumenggung Brotonegoro yang sedang menjada kembang. Akan tetapi sang tumenggung sangat keberatan jika anaknya dijadikan selir oleh sang senopati, yang menurut cerita sudah banyak selir itu, kata H. Muhyidin Isnyoto (P. Nyoto).

Karena usahanya tidak berhasil, senopati itu mendekati Tumenggung Sumoroto yang kebetulan ada ketidak cocokan dengan tumenggung Brotonegoro. Maka di aturlah siasat memfitnah sang tumenggung ke Raja Solo, di laporkan bahwa, tumenggung Brotonegoro mbalelo. Mendapat laporan ini, raja Solo nimbali (memanggil) Brotonegoro untuk menghadap sang raja, karena khawatir akan terjadi sesuatu pada dirinya, maka dia minta bantuan KH. Ghozali untuk menghadap ke Solo. Jangan-jangan jika tumenggung sendiri yang menghadap, sesampainya di keraton terus di penjarakan. Karena ini merupakan persoalan yang tidak ringan, maka K. Ghozali memberi waktu satu bulan, setelah berjalan waktu yang telah di tentukan, diam-diam raja Solo mengirimkan telik sandi (intel) pribadi agar menyelidiki ketemenggungan Polorejo.

Hasil investigasi dari pada telik sandi itu adalah bahwa, tidak di peroleh bukti-bukti yang kuat yang menunjukkan adanya tumenggung Polorejo Brotonegoro akan mbalelo (memberontak) ke Solo. Telik sandi itu tidak mendapati adanya pelatihan-pelatihan perang yang dilakukan oleh para prajurit katemenggungan, yang di dapati hanyalah latihan pencak silat biasa saja, dan ketika di tanyakan kepada penduduk desa, mereka rata-rata menjawab tidak ada apa-apa, lagi pula situasi lingkungan katemenggungan tampak aman tidak ada tanda-tanda yang membahayakan keamanan, dan persiapan pemberontakan.

Kemudian raja Solo mengirim lagi utusan untuk memanggil Brotonegoro agar menghadap Raja, seraya utusan itu mengatakan bahwa Raja tidak akan menghukumnya dengan jaminan dirinya sendiri. Artinya jika sampai di Solo Brotonegoro jadi di hukum, maka hidup dan matinya utusan itu diserahkan kepada Brotonegoro.

Bab 4 · hlm. 9–11

Hadiyah dari Seorang Tumenggung Polorejo

Ketika Tumenggung Brotonegoro memenuhi panggilan rajanya berangkat dari Polorejo bersama-sama para prajurit dan utusan menuju Solo, dalam perjalan tidak mendapati gangguan apapun dan selamat sampai di keraton.

Kemudian Tumenggung bersama utusan memasuki keraton menghadap Raja, sesampainya di hadapan raja tidak ada tutur kata yang mengancam keselamatannya dari rajanya, bahkan hanya membicarakan tentang keadaan keamanan katemenggungan, dan kesejahteraan penduduk Kabupaten Polorejo dan tidak ada yang lain. Menjadi legalah hati sang tumenggung setelah sekian waktu di hadapan raja di terima dengan baik dan tidak ada tanda-tanda untuk di rangket (di tangkap) untuk di penjarakan.

Setelah selesai pisowanan (menghadap) raja, Brotonegoro pulang kembali ke Kabupaten Polorejo dengan selamat, dan sesampainya di dalem Kabupaten terus istirahat untuk melepas lelah dan bersyukur kepada Tuhan bahwa dirinya terlepas dari fitnah yang mengancamnya dengan hukuman penjara. Kemudian karena itu lalu beberapa hari kemudian tumenggung Brotonegoro mengumpulkan istri dan anak putrinya yang menjanda itu untuk di nikahkan dengan K. Ghozali sebagai hadiah atas bantuannya dalam penyelematan beliau dari ancaman raja Solo. Lalu terjadilah pernikahan itu atas persetujuan kedua belah pihak yaitu anak putri Brotonegoro yang janda dengan K. Ghozali.

Disamping K. Ghozali diberi hadiyah anak putri seorang tumenggung, juga di hadiyahi sebuah lumbung tempat penyimpanan padi, yang mana bangunan lumbung itu bahan-bahannya dibuat dari kayu-kayu jati. Dan selanjutnya lumbung itu diboyong ke Cokromenggalan, oleh K. Ghozali di jadikan Masjid, peristiwa itu terjadi pada tahun 1830, sampai sekarang bangunan Masjid dari lumbungnya tumenggung Brotonegoro itu masih baik, ketika diadakan pemugaran tahun 2007, terjadi keajaiban yang luar biasa, banyak tukang kayu yang tidak mampu mencopot (melepas) empat tiyang (cagak-jw.) masjid itu. Karena tidak bisa dilepas, maka para tukang dan warga jama’ah bersepakat tiyang itu lebih baik dipindahkan saja dari tempatnya, sebab program pemugaran itu nanti cagak masjid akan diganti dengan cagak cor beton, layaknya bangunan model zaman sekarang. Ketika sudah di sepakati, maka tukang dengan warga yang jumlahnya ketika itu lebih dari delapan puluh orang ramai-ramai membedol cagak empat itu dengan cara di pikul bersama-sama, namun usaha itu sia-sia belaka dan tidak berhasil, cagak tetap berdiri kokoh di tempatnya. Kemudian warga jama’ah dan para tukang berembug lagi, bagaimana caranya agar empat tiyang masjid itu bisa di copot (diotha’i-jw) atau di pindahkan dari tempatnya. Lalu mereka utusan seseorang untuk menemui K. Adnan yang masih cucu buyutnya K. Ghozali, yang ketika itu sedang ada suatu keperluan, yang sebagaimana biasa beliau sering di undang pada suatu hajatan warga masyarakat untuk memberikan do’a atau mau’idlah hasanah (ceramah) di suatu tempat di luar desanya, sekalipun sebenarnya Kyainya masjid K. Ghozali Cokromenggalan itu adalah juga K. Adnan. Setelah utusan itu ketemu dan menyampaikan kejadian yang terjadi mengenai cagak masjid yang tidak dapat di copot dan tidak pula bisa di pindahkan, maka K. Adnan serampungnya pada acara hajatan itu langsung pulang menuju Masjid. Dan sesampainya di masjid banyak orang menyampaikan kejadian itu kepadanya, lalu beliau mengajak para tukang kayu itu dan warga jama’ah duduk melingkari empat tiyang masjid itu dengan menghadiyahkan do’a kepada K. Ghozali, setelah selesai berdo’a bersama-sama K. Adnan berdiri dan menepuk-nepuk empat tiyang masjid itu dengan telapak tangan kanannya, kemudian menyuruh para tukang dan warga jama’ah untuk memindahkan cagak empat itu bersama-sama ke calon tempat Imaman masjid baru tanpa melepas dari bentuk aslinya.

Akhirnya cagak empat beserta atap tengah masjid bekas lumbung sang tumenggung itu sampai sekarang masih di abadikan dan tetap utuh keadaannya sebagai imaman di masjid K. Ghozali yang sudah di renovasi tahun 2007 itu.

Hadiyah yang ketiga dari tumenggung Brotonegoro kepada K. Ghozali adalah sebidang tanah yang masih berwujud hutan angker yang terletak di timur utaranya dalem katemenggungan ± 1 km. Yang mana tanah itu setelah K. Ibrahim menamatkan belajarnya di Makah, oleh K. Ghozali kelak akan diberikan kepada Ibrahim putra pertama satu-satunya yang ilmunya sudah mumpuni. Karena tampaknya K. Ibrahim lebih bersikap tawadlu’ kepada ayahnya, dia enggan menggantikan ayahnya selama ayahnya masih hidup, begitulah jawaban K. Ibrahim ketika disuruh menggantikan ayahnya untuk mengasuh pesantren Cokromenggalan. Oleh karena itu, agar Ibrahim juga ikut berperan aktif dalam pengembangan dakwah agama Islam, K. Ghozali memberinya tanah hadiyah tumenggung Brotonegoro yang masih berupa hutan dan belum berpenduduk yang terletak di timur laut dalem katemenggungan itu kepada Ibrahim.

Setelah cukup perbekalan Ibrahim bersama istrinya berpamit kepada ayahnya untuk babat hutan dan menempati tanah yang baru, dan memang betul sebagaimana yang diceritakan banyak punggawa katemenggungan bahwa tanah itu terkenal angker, ketika Ibrahim mulai menebangi semak-semak dan pepohonan banyak gangguan dari makhluq halus. Namun pekerjaan itu tetap di lakukan tanpa menyerah sedikitpun, dan ketika malam hari tiba gubuk yang di diami Ibrahim ketika babad hutan itu sering di ganggu oleh makhluq halus berbentuk manusia yang gimbal rambutnya, besar badannya dan hitam kelam kulit tubuhnya yang biasa disebut orang dengan nama Memedi. Akan tetapi Ibrahim tetap tegar menghadapi gangguan-gangguan itu, yang akhirnya dengan do’a-do’a yang di wiridkan, maka para makhluq halus yang berbentuk genderuwo, wewe dan memedi itu tunduk dan menyerah kalah, dan selanjutnya para makhluq halus itu oleh Ibrahim di tempatkan pada sebuah pohon kayu di sekitar lokasi tanah babadannya. Sampai sekarang pohon dan tempat para makhluq halus itu tetap utuh tidak ada orang yang berani mengusiknya, dan pohon itu letaknya di timur lurung masuk masjid Bedi sebelah tenggaranya masjid. Yang kemudian lingkungan tanah babadan K. Ibrahim itu di namakan dengan nama Bedi dari kata Memedi dengan menghilangkan awalan me menjadi Medi yang akhirnya menjadi Mbedi, karena kata mbedi itu agak berat dalam pengucapan, maka menjadi Bedi. Sampai sekarang wilayah lingkungan yang di babad oleh K. Ibrahim ini di namakan Bedi.

Bab 5 · hlm. 11–14

Peperangan Brotonegoro Melawan Belanda

Pada tahun 1825 ketika terjadi perang Diponegoro melawan Belanda, Pangeran Diponegoro beserta bala tentaranya memasuki wilayah kabupaten Ponorogo, dari wilayah kabupaten Pacitan, dan istirahat di kabupaten Polorejo yang ketika itu bupatinya tumenggung Brotonegoro. Setelah bala tentara Pangeran Diponegoro istirahat beberapa waktu lamanya di Polorejo, mereka lalu berangkat lagi ke arah barat menuju Jawa Tengah melalui Somoroto dan Badegan kemudian Purwantoro kembali ke Yogjakarta.

Setelah Polorejo di tinggalkan bala tentara Pangeran Diponegoro, Belanda memasuki wilayah kabupaten Polorejo dengan persenjataan lengkap dan menyerbu, tetapi ketika itu Brotonegoro sudah ada antisipasi sebelumnya, mesti nanti sepeninggalnya tentara Diponegoro dari Polorejo Belanda pasti menyerbu kabupaten Polorejo. Dan betullah antisipasi Brotonegoro itu, sebelum di serbu Brotonegoro sudah menyiapkan para prajurit dengan persenjataan lengkap dan persiapan mental dan phisik yang mantap menghadapi serangan Belanda.

Sebelum belanda datang di wilayah wewengkon kabupaten Polorejo, tumenggung Brotonegoro sudah mendapatkan informasi tentang dari arah mana bala tentara belanda akan menyerang Polorejo. Informasi dari teliksandi tumenggung itu menerangkan bahwa belanda akan memasuki dan menyerang dari arah utara barat yaitu daerah Magetan, oleh karena itu tumenggung membuat calon (bakal), pesanggrahan di sebelah barat daya kabupaten Polorejo ± 2,5 Km, pesanggrahan itu terbuat dari bambu yang di bentuk menara yang tinggi di gunakan untuk mengintai kedatangan musuh. Dan kemudian tempat untuk membuat calon / bakal pesanggrahan itu di abadikan sebagai sebuah Dukuh yaitu Bakalan masuk wewengkon Polorejo. Adapun pesanggrahan yang dibuat oleh para prajurit Brotonegoro itu letaknya lurus di utara masjid Bakalan sekarang ± 500 m.

Tidaklah sia-sia persiapan Brotonegoro untuk membuat pesanggrahan itu, dan betul-betul bermanfa’at untuk mengintai kedatangan belanda, karena ketinggian menara pesanggrahan itu 2 x setinggi pohon bambu (rong uder.jw) dan sekaligus sebagai pusat komando perang.

Perang Brotonegoro melawan belanda sudah tidak bisa dihindari lagi dan betul-betul terjadi pada tahun 1825, medan pertempuran berada di sebelah barad daya pesanggrahan, ketika tumenggung Brotonegoro menjemput kedatangan belanda diikuti oleh banyak prajurit, dan sebagai tanda belanda sudah datang seorang prajurit di perintahkan memukul gong yang disebut demung, sekaligus itu sebagai aba-aba perang. Disaat belanda datang prajurit pemukul gong demung, memukul gong itu terus menerus hingga kuda yang ditunggangi Brotonegoro lari melesat secepat kilat ndigar-ndigar menjemput musuh, dan tumenggung tampak gagah berani sebagai komandan perang.

Peperangan terjadi hingga waktu sore menjelang malam, hingga sangat sulit untuk melihat lawan dan belanda pun mundur, prajurit Brotonegoro banyak yang menyebar kocar-kacir di berbagai penjuru arah. Namun tumenggung sudah kembali lagi ke pesanggrahan diikuti oleh sebagian prajurit, waktu sudah betul-betul malam banyak prajurit yang kebingungan untuk kembali ke pesanggrahan, karena memang daerah medan peperangan itu saat itu masih berupa hutan belantara. Saat prajurit itu kebingungan mencari pesanggrahan tiba-tiba saat itu ada seorang prajurit yang melihat lampu yang kerlip-kerlip (kelip-kelip.jw) tidak jauh dari tempat prajurit itu berdiri yaitu di arah sebelah barat lurus, kemudian mereka sama mengatakan yang kelip-kelip di atas itu pasti lampu pesanggrahannya ndoro Brotonegoro, ternyata betul, setelah mereka berjalan menuju ke arah lampu itu ketemu dengan prajurit-prajurit lainnya dan mereka dapat berkumpul kembali. Kemudian tempat prajurit memukul gong demung tadi dinamakan Demung masuk desa Sukosari, tempat ndigar-ndigar kudanya Brotonegoro di namakan Tegari, sekarang berupa sawah masuk wilayah Polorejo, dan tempat prajurit mengatakan “kelip-kelip”nya lampu pesanggrahan itu dinamakan “Sekelip” masuk wilayah Polorejo, bekas (petilasan) pesanggrahan Brotonegoro dinamakan “Tilasan” dulu ada gerumbulnya dinamakan gerumbul tilasan sekarang berupa persawahan.

Pada tanggal 15 Nopember 1825 pertahanan kabupaten Madiun yang setia kepada Pangeran Diponegoro di pusatkan di selatan kota Ngawi, namun para pasukan yang berada dalam pertahanan ini mendapat gempuran yang hebat dari pasukan Belanda. Dari sebelah utara di gempur oleh pasukan belanda yang di pimpin oleh Theunissen, dari barat di serang pasukan belanda yang di pimpin oleh Letnan Vlikken Sohild dengan ratusan prajurit Jogorogo Surakarta pro belanda. Akhirnya pasukan Madiun yang setia kepada Diponegoro menjadi kocar kacir dan Ngawi jatuh ketangan Belanda. Pada waktu itu pertahanan Diponegoro di Madiun sektor Selatan di tempatkan di daerah Kabupaten Pacitan dengan panglima daerah di bawah pimpinan Bupati Mas Tumenggung Djojokaridjo, Mas Tumenggung Djimat dan Ahmad Taris, namun karena kuatnya pasukan Belanda pada akhir Agustus 1825 Pacitan dapat di kuasai pasukan Belanda.

Dengan berhasilnya Belanda melumpuhkan pasukan Diponegoro di Madiun pertahanan sektor Selatan dan sektor Utara (Ngawi), maka wilayah Madiun secara keseluruhan sudah jatuh ke tangan Belanda dan Brotonegoro Bupati Polorejo yang menjadi benteng pertahanan kota Ponorogo Utara pun di obrak-abrik oleh Belanda. Brotonegoro seorang Bupati yang gagah berani itu tetap menghadang pasukan Belanda dari arah kota Madiun dan Gorang-gareng Magetan. Karena pasukan dan persenjataan yang tidak seimbang, maka pasukan Brotonegoro banyak yang tewas, dan pertempuran menjadi tidak seimbang, karena semakin sedikitnya pasukan Brotonegoro, maka Pekatiknya dengan sigap meloncat naik kepunggung kudanya Brotonegoro lalu menarik kendali kuda itu dan mencambuk-cambuknya hingga kuda lari melesat cepat menuju arah Barat Laut.

Melihat Brotonegoro keluar dari medan pertempuran dan memacu kudanya sangat cepat, maka Belandapun mengejarnya hingga Brotonegoro naik puncak gunung Gombak (Nglarangan) Kauman Somoroto. Gunung kecil itu di atasnya tidak berpenduduk hingga Belanda sangat mudah untuk mengepung bukit itu dari bawah. Ketika Belanda dapat mengepung perbukitan itu, tidak boleh seorangpun penduduk pribumi yang naik ke atas bukit itu hingga waktu yang sangat lama, sehingga karena tidak ada makanan dan minuman setelah bertahan sekian bulan lamanya akhirnya sang Bupati Brotonegoro menemui ajalnya. Yang kemudian bukit itu dinamakan Bukit Larangan, karena adanya larangan dari Belanda selama Brotonegoro diatas bukit itu tidak boleh ada orang yang naik keatasnya. Dan akhirnya oleh Belanda jenazah Brotonegoro dimakamkan diatas bukit itu dengan pemakaman secara Islam, bersama kuda dan pekathiknya di makamkan disitu juga. Kemudian bekas medan pertempuran Brotonegoro melawan Belanda di Ponorogo Utara itu dinamakan Petilasan dari kata Tilas (jw).

Kata Tilas mendapat ater-ater Pe dan penambang an hingga menjadi “Petilasan”, kemudian membuang ater-ater Pe menetapkan penambang maka menjadi “Tilasan”. Dimana lokasi ini terletak ± 7,5 km arah utara dari kota Ponorogo, yang sekarang berujud areal persawahan pertanian Ds. Polorejo.

Peta Areal Pertempuran Tumenggung Brotonegoro melawan Kompeni Belanda, 1825 (Buku TALI 2022, hlm. 13)

Setelah Brotonegoro wafat dalam medan pertempuran dengan cara yang sangat tidak manusiawi oleh perlakuan Belanda, maka yang menggantikan kedudukan Bupati Polorejo adalah Brotowiryo sekitar tahun 1825 s/d 1829 ia adalah adik kandung Brotonegoro, dan menjadi bupati Polorejo tidak lama hanya dalam kurun tiga tahunan sudah meninggal dunia. Kemudian digantikan oleh putra menantunya yang bernama Mertomenggolo tahun 1829 sampai dengan tahun 1834.

Pada waktu pemerintahan Mertomenggolo inilah lumbung padi Brotonegoro bupati Polorejo pertama di pindahkan ke Cokromenggalan ke Pondok Pesantrennya KH. Ghozali untuk di jadikan Masjid sekitar th. 1830. Mertomenggolo tidak lama menjadi Bupati Polorejo sekitar lima tahunan, dan di gantikan oleh Raden Tumenggung Wiryonegoro putra Raden Tumenggung Brotowiryo tahun 1834 sampai dengan tahun 1837, dan di tahun inilah R.T Wiryonegoro meninggal dunia dan di makamkan di makam keluarga Raden Betoro Katong di Setono. Dan dengan demikian Kabupaten Polorejo sudah runtuh dan di hanguskan oleh pemerintahan Belanda bersamaan dengan Kabupaten Ponorogo Timur (Setono/Kota Lama)-(1). Kemudian sekitar tahun 1849 Ibrahim bin KH. Ghozali memulai babad di Polorejo di tanah hadiah dari Brotonegoro, yaitu di Bedi sekaligus babad dakwah Islam dengan mendirikan pondok pesantren. Ketika itu Ponorogo di bawah pemerintahan bupati Raden Adipati Mertohadinegoro yang menjadi Bupati Ponorogo selama tahun 1837 sampai dengan 1854. Pada tgl. 5-2-1843 beliau mendirikan masjid Kauman Kota Ponorogo barat alun-alun bertepatan dengan tgl. 5 - Muharam - 1259 H hari Sabtu Pahing.

Bab 6 · hlm. 14

Santri-Santri Mbeling

Pada tahun 1854 Raden Adipati Mertohadinegoro meninggal dunia dan dimakamkan di pemakaman Tajug, ± 4 km, arah timur kota Ponorogo menuju Kec. Pulung. Di tahun itu juga jabatan bupati di percayakan kepada Raden Mas Tumenggung Cokronegoro I yang memerintah Kabupaten Ponorogo selama tahun 1854 sampai dengan 1856. Ketika masa pemerintahan Cokronegoro ini di dukuh Bedi Desa Polorejo sudah berdiri sebuah Pondok Pesantren Bedi sesuai dengan nama letak pesantren itu. Konon santrinya banyak mencapai ratusan santri jumlahnya, dan menurut ukuran penduduk diwaktu itu jumlah ratusan santri itu sudah cukup terkenal. Para santri itu berdatangan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, kebanyakan para santri yang datang ke pesantren ini untuk menghafal “Al-Qur’an” karena memang Mbah Ibrahim adalah Kyai yang hafal Qur’an dan menguasai betul tentang penulisan, bacaan dan kandungan tafsir ayat-ayat Al-Qur’an.

Santri-santri Pondok Pesantren Bedi sangat terkenal dengan sifat brawokan dan pemberani, pada suatu hari K. Ibrahim menyuruh mereka mengikuti kerja bakti (ro’an.jw) memotong bambu di dukuh Bakalan, arah barat utara Bedi ± 1,5 km. dimana pohon bambu itu akan di gunakan untuk pembangunan pondok. Setelah selesai memotong pohon-pohon bambu itu mereka mengusungnya dengan jalan kaki dari Bakalan menuju Bedi melewati jalan arah Ponorogo Magetan. Di sepanjang jalan ratusan santri yang memikul pohon-pohon bambu itu sama berteriak-teriak sesuka hatinya, dan tidak jarang mereka itu ada yang cara memikul batang bambu dengan di palangkan (dipikul malang-jw) di jalanan, sehingga sangat mengganggu orang yang sama lewat di jalan itu.

Kebetulan saat itu pula Adipati Ponorogo R.M.T Cokronegoro lewat jalan yang di lalui para santri pemikul batang-batang bambu itu, ketika itu pula perjalanannya untuk melakukan inspeksi ke daerah Ponorogo Utara bersama keluarga merasa sangat terganggu. Lalu Adipati menghentikan kereta bendinya, kemudian bertanya kepada para pemuda yang ugal-ugalan dan mbeling itu, namun para santri tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan Adipati bahkan mereka malah mengolok-olok dan menggojloknya. Tetapi perbuatan para santri ini memang tidak di sadari kalau yang di hadapi itu adalah Adipati Cokronegoro, sama sekali para santri itu tidak kenal dan tidak mengerti bahwa yang di olok-olok dan di gojlok adalah orang yang paling berkuasa di tlatah Ponorogo.

Setelah peristiwa itu berlalu, sepekan kemudian K. Ibrahim di timbali untuk menghadap kanjeng Raden Mas Tumenggung Cokronegoro, untuk di mintai keterangan perihal sikap para santrinya terhadap dirinya yang di olok-olok dalam perjalanannya ke wilayah Ponorogo Utara.

K. Ibrahim adalah sosok kyai yang sabar, arif dan wira’i, dengan serta merta memintakan permohonan maaf atas perilaku para santrinya yang terkesan mbeling dan kurang ajar itu. Setelah agak lama berbincang-bincang antara keduanya, dan saling mengerti siapa sebenarnya K. Ibrahim dan siapa pula R.M.T Cokronegoro, maka tidak ada sangsi yang di jatuhkan kepada para santrinya K. Ibrahim. Cokronegoro adalah putra dari Kanjeng Kyai Hasan Besari Tegalsari, beliau adalah Adipati Tumenggung yang muslim ayah dari Cokroamiseno kakaknya HOS Cokroaminoto(3). K. Ibrahim keluar dari dalem kabupaten dan pulang dengan hati yang lega, karena ternyata kanjeng adipati berhati murah dan mudah mengampuni.

Bab 7 · hlm. 15

Memulyakan Pencuri

Setiap malam kebiasaan K. Ibrahim adalah banyak menulis Al-Qur’an sehabis shalat ’Isyak dan ngaji bersama para santrinya. Secara rutinitas kegiatan itu beliau lakukan, mengingat pentingnya Al-qur’an bagi para santri-santrinya, karena pada waktu itu belum ada Qur’an yang di cetak dan di jual di pasaran umum. Sedangkan permintaan para wali santri untuk dapat memiliki sebuah Al-Qur’an tidak dapat di tolak lagi, dan memang itu juga merupakan sebuah kewjiban bagi K. Ibrahim untuk menjalankan misinya sebagai salah satu bentuk sarana dakwahnya, yaitu supaya masyarakat bisa baca Qur’an bin Nadlor.

Karena lelah dan kantuk setelah menulis Al-Qur’an di suatu malam ada tiga orang yang masuk kerumah Mbah K. Ibrahim tanpa permisi, dimana memang mereka punya maksud untuk mencuri barang-barang berharga miliknya. Ketika itu mbah Ibrahim sudah tidur pulas di amben kanthil dan tidak tahu kalau rumahnya dimasuki tiga orang pencuri. Menjelang subuh tiba sudah menjadi kebiasaan K. Ibrahim bangun dari tidurnya untuk shalat malam, dan di ikuti oleh Nyai Ibrhim. Disaat bangun tidur itu ketika akan turun dari amben beliau terkejut melihat ada orang tidur di lantai dekat tempat tidurnya Kyai, dan mereka itu berpakaian bukan pakaian santri, tapi pakaian pencuri lengkap dengan alat-alat untuk mencuri. K. Ibrahim terus bangun dan membangunkan mbah Nyai, tetapi karena beliau terkenal orang yang sabar dan wira’i, perncuri itu di biarkan tidur pulas, dan beliau tidak memanggil para santrinya untuk meringkus pencuri itu. Akan tetapi beliau malah menuju ke kandang ayam dan mengambil ayam jagonya untuk di sembelih, dan menyuruh mbah Nyai untuk segera cethik geni untuk masak nasi dan ayam jago tadi.

Subuh sudah tiba, para santripun banyak yang pergi ke sumur mengambil air wudlu dan ada yang sudah nabuh bedug untuk aba-aba manjingnya shalat, tetapi pencuri itu pun tidak bangun juga. K. Ibrahim setelah wudlu terus menuju masjid shalat subuh berjama’ah dengan para santri lalu dzikir dan ngaji kitab kuning, yaitu fiqih dan tauhid.

Setelah waktu ngaji selesai beliau pulang kerumah dan melihat tiga pencuri yang tidur pulas tadi sudah sama bangun apa belum, eh, ternyata belum. Beliau terus ke dapur membantu mbah Nyai meneruskan memasak setelah ditinggal subuhan. Tidak lama kemudian masakan untuk sarapan pagi sudah siap dihidangkan, mbah Nyai terus menyiapkan hidangan itu di atas meja makan, setelah selesai K. Ibrahim menuju kamar tidur dan membangunkan para pencuri yang tidur di lantai tadi. Ketika pencuri itu di panggil dan dibangunkan oleh K. Ibrahim, mereka terperanjat dan gugup melihat beliau yang sedang duduk di kursi berpakaian rapi dan berkalungkan serban. Sinar matahari sudah sangat cerah menerawang celah-celah genteng atap rumah Kyai, pencuri itu sama kebingungan dan tampak malu mereka berbisik-bisik satu sama lain lalu mereka mengucapkan permohonan maaf, karena mereka punya maksud tidak baik masuk kerumah Kyai tanpa permisi, tidak lain kata mereka memang ingin mencuri.

Setelah mendengar pengakuan mereka K. Ibrahim lalu bertanya, mengapa malah tidur dan tidak jadi mencuri ?, jawab mereka adalah menurut perasaannya mereka tidak masuk kedalam rumah, akan tetapi semalaman masuk ke dalam hutan dan selalu berputar-putar saja di dalam hutan itu, mau keluar tidak tahu jalan keluarnya, karena sangat lelah dan payah kemudian mereka tidur. K. Ibrahim dengan kesabarannya dan gaya bicaranya yang wibawa mengajak mereka menuju meja makan dan mereka diajak sarapan pagi bersama-sama. Mereka tampak malu, tetapi K. Ibrahim tetap mengajaknya, lalu merekapun menurut ajakan beliau.

Sehabis sarapan, mereka di perkenankan pulang dan oleh mbah Ibrahim masing-masing di kasih beras satu bathok satu bathok untuk di bawa pulang. Mereka lalu berterima kasih pada mbah Ibrahim atas kebaikannya sebelum mereka pulang, dan mbah Ibrahim juga mengucapkan terima kasih atas kebaikan para pencuri itu yang semalaman sudah menjaga tidurnya dan rumahnya sehingga pantaslah kalau mereka itu harus dimuliakan(4). Sebelum mereka berpamitan mereka berjanji tidak akan mencuri lagi dan akan bekerja mencari hasil yang halal untuk makan sehari-hari.

Bab 8 · hlm. 16–17

Harga Sebuah Al-Qur'an

Kitab suci Al-Qur’an di tanah Jawa pada masa K.Ibrahim masih langka di punyai orang. Adanya baru di Keraton Solo, Kesultanan Demak atau di Pondok-pondok pesantren lainnya. Itupun cuma sedikit, hal ini karena teknologi saat itu belum memungkinkan untuk mencetak Al-Qur’an. Kertas sebagai bahan baku untuk pembuatan buku juga merupakan sesuatu benda yang masih asing, apalagi mesin cetak. Kondisi yang demikian ini sangat memprihatinkan bagi KH. Ibrahim sebagai seorang yang hafidl Qur’an.

Mohammad Nor Ikhwan dalam buku Belajar A-qur’an terbitan Rasail Semarang th. 2005 menukil pendapat Subhu Sholih mengatakan : Al-Qur’an untuk pertama kali dicetak di Bunduqiyah Venesia Italia pada th.1530 M / 936 H, namun ketika Mushhaf cetakan itu muncul, kekuasaan gereja segera mengeluarkan perintah untuk menghanguskannya. Kemudian pada th. 1694 M/ 1105 H, Hinkelman mencetak mushhaf di kota Hanburg Jerman Barat, beberapa tahun kemudian ± th. 1698 M/ 1109 H Marraci juga mengikuti jejak Hinkelman, dengan mencetak mushhaf di kota Padoe Italia Utara. Hal patut di sayangkan, karena tidak ada satupun dari Mushhaf tersebut yang sampai ke tangan orang-orang Islam di waktu itu. Baru kemudian pada tahun 1787 M/1201 H, berdiri percetakan Islam yang didirikan oleh Maulana Utsman di kota Sain Petersbourg Rusia demikian di Qozan berdiri percetakan serupa.

Kemudian di Iran terbit dua mushhaf, satu buah dicetak di Teheran th. 1828 M/1243 H dan yang satunya lagi dicetak di Tibris pada tahun 1833 M/1249 H. Setelah itu pada tahun 1834 M/ 1250 H Flugel mendirikan percetakan khusus untuk mencetak mushhaf di Leipzig.

Dan tak lama kemudian di Kairo muncul mushhaf dalam bentuk kecil, indah dan sangat halus, yang dicetak dan di terbitkan pada tahun 1932 M/ 1351 H, di bawah pengawasan Syaikh Al-Azhar dan di akui serta disahkan oleh sebuah Panitia Khusus yang di bentuk oleh Raja Fuad I. Mushhaf tersebut di tulis dan disusun sesuai dengan riwayat Hafs mengenai qiraat ’Ashim.

Di pesantren Al-Ghozali Cokromenggalan pada tahun 1820 M/1235 H, hanya ada satu kitab suci Al-Qur’an, yaitu milik K. Ghozali. Dan pada tahun 1847 M/ 1263 H, KH. Ibrahim pulang dari mondok dan ibadah haji dari tanah suci Makah, beliau membawa oleh-oleh sebuah Al-qur’an, yang digunakan untuk ngajari para santrinya belajar ngaji Qur’an. Dan dengan kepandaiannya menulis huruf Arab yang indah, KH. Ibrahim berusaha memperbanyak jumlah Al-Qur’an untuk dipergunakan belajar para santrinya.

Pada awalnya dalam menulis Al-Qur’an sebanyak 30 juz itu KH. Ibrahim baru bisa merampungkannya dalam waktu satu tahun, hal ini di karenakan beliau menulis Al-Qur’an itu di kerjakan secara sambilan (samben-jw), yaitu setelah selesai mengajar para santrinya. Sekalipun cara mengerjakannya hanya samben ternyata hasilnya sangat bagus dengan tulisan gaya Nash besar-besar untuk memudahkan dalam membaca. Di permulaan surat di beri hiasan-hiasan ornamen yang sangat indah begitu pula setiap sepuluh juznya, bahkan di pinggir tiap lembaran ada catatan bacaan suatu lafadl menurut beberapa Imam, Al-Qur’an yang pertama di tulis oleh KH. Ibrahim itu sangat menarik perhatian para santri, yang kemudian tentunya mereka ingin pula memilikinya. Ternyata betul ada seorang santri yang tertarik ingin memiliki Mushhaf Al-Qur’an tulisan tangan mbah KH. Ibrahim, dengan memberanikan diri santri itu matur kepada beliau agar berkenan menuliskan Al-Qur’an 30 juz itu untuknya dengan imbalan 2 ekor sapi. Akan tetapi KH. Ibrahim tidak mengabulkan permintaan tersebut sehubungan dengan kesibukannya mengasuh pesantren. Santri tersebut tidak kurang akal, dengan memohon terus menerus dan juga di sertai orang tuanya, akhirnya pesanan itu di sanggupinya dengan syarat asal mau sabar.

Akhirnya dalam waktu enam bulan Al-Qur’an tulisan tangan 30 juz itu dapat diselesaikan sesuai dengan yang di harapkan santri yang memesan tersebut. Mbah KH. Ibrahim dalam menulis Al-Qur’an itu di kerjakan diwaktu tengah malam sehabis mengerjakan shalat tahajud, dengan menggunakan pen tutul sodo aren dan tinta bak (tinta cina), sebagaimana yang telah dijanjikan sebagai imbalannya adalah 2 ekor sapi, hal itu betul-betul di penuhi oleh santri tersebut, yang kemudian sapi itu dijual untuk biaya pembuatan pembangunan pesantren, tempat wudlu’, gothaan (asrama santri) dan perbaikan masjid(6).

Ketekunan dan ketrampilan KH. Ibrahim dalam menulis Al-Qur’an itu ternyata bisa terdengar sampai kemana-mana, terbukti ada orang dari Banyuwangi dan Kedu Jawa Tengah juga memesan Al-Qur’an tulisan tangan KH. Ibrahim. Untuk sebuah Al-Qur’an tulisan tangan KH. Ibrahim, mereka ada yang berani memberi imbalan Rp 50,- (lima puluh rupiyah), yang mana kala itu harga seekor sapi sekitar Rp 10,- (sepuluh rupiyah). Para cucu buyut canggah wareng sekarang ini dapat membandingkan berapa harga satu ekor sapi sekarang……?. Dan menurut sebagian cerita KH Ibrahim itu telah berhasil menulis 11 buah kitab suci Al-Qur’an semasa hidup beliau yang di pesan oleh orang dan beberapa buah lagi di berikan kepada anak cucunya. Dan salah satu Al-Qur’an yang pertama tulisan KH. Ibrahim dan sebagai bacaan pribadinya berada di tempat K. Muslih Al-Baroni yang olehnya di slaitkan untuk di tampilkan pada buku TALI cetakan 10-Juli-2006 ketika Silatul Arham di Karangtengah Baron Nganjuk di rumah KH Mukhlas Ghozali.

KH. Ibrahim tidak hanya menulis Al-Qur’an saja tetapi juga menulis kitab-kitab salafiy atau kitab kuning, yang menjadi kajian pokok pondok-pondok pesantren ketika beliau masih nyantri di pondok pesantren Tegalsari, seperti kitab Fiqih, Tauhid bahkan kitab yang berisi do’a dan aurod. Dan Al-Qur’an tulisan KH. Ibrahim yang sekarang masih di simpan baik oleh P. Suharto mantan Sekretaris Kelurahan Kertosari, beliau adalah buyut dari santrinya KH. Ibrahim adalah merupakan bukti sejarah yang dapat di jadikan bukti nyata, bahwa memang KH. Ibrahim betul-betul seorang yang ahli dalam penulisan Al-Qur’an. Lagi pula yang dapat meyakinkan adalah di dalam Qur’an yang di simpan oleh P. Suharto itu masih di selipkan 2 batang sodo aren yang ujungnya di pegas layaknya ujung pena sepesial untuk menulis khoth arab.

Bab 9 · hlm. 17

Sangat Menyayangi Sesama Makhluq Allah

Sebagai orang yang terkenal ’alim yang berilmu tinggi KH. Ibrahim tidak marok dan bukan warokan, tetapi beliau orang yang wira’i lagi sabar, selalu merendahkan diri di hadapan orang yang keminter dan gemuru, beliau tidak suka minteri dan ngguroni tidak menampakkan kepinterannya dan keguruannya, sangat bersahaja penampilan beliau. Sabar dan santun kepada sesama makhluq Allah, tidak terbatas kepada manusia saja tetapi kepada binatang juga, karena saking sabarnya, jika ada ayam memakan padi yang dijemurnya beliau tidak mau mengusiknya kasihan kata beliau, karena manusia sudah banyak di beri kenikmatan oleh Allah.

Ketika beliau akan meliwati suatu jalan, dimana ada burung yang bertengger di dahan pepohonan di tepi jalan yang akan di laluinya, beliau menghentikan langkahnya dengan sabar menunggu sampai burung-burung itu terbang dengan sendirinya tanpa merasa terganggu oleh beliau.

Bahkan tidak sedikit orang bercerita secara run-temurun, bahwa tidak ada orang yang sabarnya bisa mengalahkan kesabaran mbah K. Ibrahim Bedi. Menurut cerita masyarakat sampai sekarang, konon K. Ibrahim dulu jika hendak melewati jalan dan berpapasan dengan burung yang lagi mencari makan di jalanan yang hendak di laluinya, beliau mengalah mencari jalan terabasan, dan tidak jadi melewati jalan yang ada burungnya lagi mencari makan itu. Dalam bahasa jawanya “Pilih golek dalan liyo (nrabas) katimbang ganggu manuk sing lagi golek pangan”.

Bab 10 · hlm. 17–18

Mbah Kombong

Pondok Pesantren Bedi pernah mengalamai zaman keemasan terkenal sampai di belahan pulau Jawa dan Madura, para santri banyak yang datang ke Pesantren Bedi ini, ada seorang santri yang nama laqabnya adalah Kombong.

Santri Kombong adalah santri yang datang dari kota Mbegelen Purworejo - Yogja - Jawa Tengah, santri ini punya keistimewaan tersendiri. Semenjak masuk menjadi seorang santri ia sangat patuh dan taat kepada Kyainya, suka prihatin dan puasa, aktif mengaji sampai berkali-kali khotam kitab masih suka mengulang lagi dan mengulang lagi. Ia sangat senang mengabdi kepada mbah K. Ibrahim dan tidak peduli pada dirinya sendiri, hingga sudah usia kawin di suruh kawin oleh mbah Ibrahim, dia tidak begitu serius menanggapi perintah beliau, bahkan seakan-akan dia mempunyai janji “akan tetap mengabdi kepada K. Ibrahim sampai dia mati”.

Dan keanehan Kombong adalah, ia tidak suka keluar dari kombong gotha’annya kalau tidak ada perlu mengaji dengan K. Ibrahim, karena kebiasaannya yang seperti itu maka ia dinamakan Mbah Kombong (tidak diketahui nama aslinya). Kombong usianya semakin tua tetapi tetap membujang dan K. Ibrahimpun juga semakin tua, akan tetapi Allah lebih dulu mengambil nyawa Kombong daripada K. Ibrahim. Sebelum Kombong meninggal dunia sempat matur kepada mbah Ibrahim, jika sewaktu-waktu ia meninggal nanti sudilah kiranya mbah Ibrahim mengkuburkan jasadnya di tanah milik mbah Ibrahim. Dan betul Kombong adalah santri satu-satunya yang mati di pesantren Bedi dan yang pertama kali di kubur di tanah pribadi mbah Ibrahim, yang kemudian tanah sekitar makamnya itu oleh K. Ibrahim di wakafkan untuk pekuburan umat muslim penduduk sekitar Polorejo. Kemudian makam santri Kombong itu oleh mbah Ibrahim di beri batas sendiri, dan tidak boleh untuk mengubur orang lain lagi di kanan kirinya, selain kuburnya Kombong dan sampai sekarang titah mbah Ibrahim itu tetap di jaga. Ketika makam umum itu di pagar keliling oleh Desa tahun 2009 (Kepala Desa Polorejo saat itu Drs. Aman Suhermanto), kubur mbah Kombong tetap di beri pagar dan dalam kombong tersendiri. Letak kubur mbah Kombong adalah di sebelah utara makam keluarga K. Ibrahim, belakang Masjid Bedi.

Bab 11 · hlm. 18

12 Tahun Nyantri Tidak Pernah Pulang

Lain mbah Kombong lain pula ceritanya dengan santri yang bernama panggilan Noer, dia merupakan seorang santri yang rumah tempat tinggalnya tidak jauh dari lokasi pondok Bedi sekitar 1 km kearah tenggara, tepatnya dukuh Tamanan. Menurut H. Muryani (cucu mbah Noer), ia berceritera :

Kakek saya dulu juga pernah mondok di pesantren Bedi dan selama mondok di Bedi itu tidak pernah pulang ke rumah selama dua belas tahun, sekalipun jarak rumah dan pondok Bedi itu tidak jauh. Ketika kakek saya itu bercerita seperti itu saya lalu bertanya :

“Mengapa kakek tidak pernah pulang ?”

Jawab kakekku :

“Karena saya lebih krasan di pondok dan disamping itu, memang saya ingin lebih dekat dengan mbah Kyai Ibrahim dengan maksud tabarukan dengan ke’alimannya itu”.

Disamping itu apakah ada maksud yang lainnya kek ?

Jawab kakek :

“Ya, ada, karena pada saat itu saya punya keinginan, di mana sebelum saya memiliki kitab yang di tulis oleh K. Ibrahim sendiri saya tidak ingin pulang ke rumah”.

Kitab apa saja itu kek, yang kakek inginkan ?.

Jawab kakek :

“Ya, kitab fiqh dan tauhid, karena di pondok itu tidak hanya mligi menghafal Al-Qur’an saja, tetapi juga diberi wulangan ngaji fiqh, tauhid dan hadits”.

Lalu keinginan kakek itu terkabulkan ?.

Jawab kakek : “Alhamdulillah, mbah buyutmu, kemudian menjual seekor kerbaunya untuk memesan kitab yang aku inginkan kepada mbah Ibrahim, lalu aku pulang.

Bab 12 · hlm. 18–20

Kisah-Kisah Karomah

Bisa Panjat Tidak Bisa Turun

Pada waktu siang bolong, ada orang yang berniat mencuri kelapa milik mbah K. Ibrahim, dan pohon kelapa itu berada persis di sebelah selatan halaman rumah beliau. Ketika pencuri itu memanjat pohon kelapa, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan waktunya dan jam berapa. Ketika beliau hendak ke tegal dekat rumah, beliau melintasi bawah pohon kelapa yang tanpa di duga, ternyata di atas pohon kelapa itu ada orang yang tergencet, bisa panjat tetapi tidak bisa turun, dan rupanya si pencuri kelapa itu sudah lama berada diatas pohon itu.

Sekitar rumah dan halaman mbah K. Ibrahim memang banyak di tanami pohon kelapa pada waktu itu, dan sudah menjadi kebiasaan beliau setiap pagi dan siang hari selalu melihat-lihat ke tegal dan tanpa ketinggalan beliau juga sering melihat keatas pohon kelapa, kalau-kalau sudah ada yang dapat di petik. Dengan tanpa di duga ketika beliau menuju ke tegal depan rumah mendengar ada orang yang teriak-teriak minta tolong, mbah Ibrahim dengan cepat mengarahkan langkah dan pandangannya menuju ketempat orang yang minta tolong tersebut.

Pencuri bilang taubat dan tidak akan mengulangi perbuatannya kepada mbah Ibrahim. Kemudian mbah Ibrahim pun memaafkannya, lalu pencuri itu di suruh turun, tetapi dia bilang tetap tidak bisa turun, sampai berkali-kali disuruh turun nyatanya kaki dan tangannya tetap melekat di pohon kelapa dan sulit untuk di lepaskan. Akhirnya mbah K. Ibrahim pulang mengambil tangga (ondho-Jw), lalu tangga itu di sandarkan di pohon kelapa yang ada pencurinya, sebetulnya tangga itu tidak begitu panjang, tetapi ketika di sandarkan pada pohon kelapa itu panjangnya bisa mencapai ketinggian pohon kelapa itu, akhirnya pencuri itu dapat turun dengan mudah.

Setelah sampai di bawah pohon kelapa pencuri itu lalu berpamitan kepada mbah K. Ibrahim sambil berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya yang memalukan itu.

Semut Geni Sang Penjaga Rumah Kyai

Yang namanya maling, begal dan rampok, pada zaman kehidupan mbah K. Ibrahim sudah biasa, dan biasanya maling pada zaman dulu tidak mencungkil pintu maupun jendela tetapi dengan jalan menggali pondasi rumah orang sehingga tembus kedalam rumah, dan dari situlah maling masuk. Dan sering juga rumah mbah K. Ibrahim itu akan di malingi orang tetapi gagal, dan si malingpun tidak kapok-kapok pula. Di suatu malam, ada maling menggali pondasi rumah mbah Ibrahim dari arah belakang rumah, ketika galian itu sudah hampir selesai dan tembus ke dalam rumah, tiba-tiba maling itu sudah di keroyok semut geni, dimana semut itu jika menggigit rasanya gatal dan panas sekali, dan kulit yang digigit itu pasti bengkak-bengkak.

Anehnya maling itu malah tambah nekad, dan pindah ketempat lain dan menggali pondasi lagi dari arah timur rumah, tetapi anehnya setiap galian itu mendekati rampung, dan malingpun sudah berada di dalam galian tersebut, semut genipun datang menyerang. Begitu itu dalam semalam bekas galian itu sampai ada lima tempat, dan gagal semuanya, dan akhirnya kawanan maling itu menyerah kepada Mbah Ibrahim dan minta di jampeni (diobati) dengan jampe penawar gigitan semut geni.

Mencoba Kesaktian Makam Mbah KH. Ibrahim

Ada seorang pemuda yang sering mendengar cerita dari mubaligh, bahwa orang yang hafidl qur’an itu jika sudah meninggal, kain kafannya tidak akan lapuk begitu pula jasadnya. Menurut saksi mata, pemuda itu lalu mempunyai iseng ingin membuktikan apa yang telah di dengar dari mubaligh tersebut. Ia dengan tiba-tiba tertuju kepada almarhum mbah KH. Ibrahim, bahwa konon beliau adalah seorang yang hafidl qur’an dan ahli menulis Al-Qur’an, ia dengan di ikuti oleh adik kandungnya pada suatu malam membawa ganco menuju makam mbah KH. Ibrahim, tujuannya adalah untuk menggali kubur beliau dan ingin membuktikan kebenaran ucapan sang mubaligh tersebut.

Niat itu betul-betul di laksanakan tanpa ada perasaan takut dan gentar sedikitpun, sesampai diatas pusara makam mbah Ibrahim, tanahnya di gali dengan ganco itu, ketika penggalian itu mencapai kedalaman ± 30 cm, tiba-tiba dari dalam kubur itu menyemburkan air dengan daya semburan yang kuat sekali, hingga ganco yang ada pada genggaman tangannya dapat melesat lepas terlempar sejauh ± 7 m dan menimpa pada maesan kubur cucu mbah Ibrahim, dan gempalan maesan itu menjadi saksi yang tidak dapat di hilangkan.

Kejadian itu di lakukan oleh pelaku kurang lebih tahun 2004, sehingga jika mbah K. Ibrahim itu meninggal dunia sekitar tahun 1917 M, maka selama 87 tahun setelah wafat beliau ma’unahnya Allah tetap menjadi pelindung beliau.

Allah memang Maha segala-galanya, Maha adil, Maha bijaksana, Maha tahu dan Maha sempurna. Kemudian pemuda itupun akhirnya menemui ajalnya dalam waktu yang tidak begitu lama dari percobaan penggalian makam mbah KH. Ibrahim. Semoga Allah menerima arwahnya dengan penuh ampunan dan rahmatnya Amiin.

Bab 13 · hlm. 20–22

Mbah K. Ibrahim Membangun Tiga Masjid

Sekitar tahun 1848-1849 M, K. Ibrahim memulai babad tanah Bedi dan sekaligus membuat rumah tempat tinggal bersama istrinya, masjid dan mendirikan pondok pesantren, di mana santri-santrinya di kirim dari pesantren abahnya dari Cokromenggalan ketika masih awal-awal babad, dan lama kelamaan bisa mandiri, banyak santri yang berdatangan dari berbagai penjuru Jawa dan Madura.

Selama berumah tangga dengan istrinya yang bernama Sudjinah KH. Ibrahim di karuniai enam orang putra dan putri yaitu :

  1. Roisah
  2. Zainab
  3. Mardjiyah
  4. Ridwan
  5. Sudjinah dan
  6. Syarifah.

Masjid Tamanan

Anak putrinya yang kedua Zainab di nikahkan dengan seorang santrinya yang bernama Umar dari Dukuh Tamanan Desa Polorejo, arah tenggara dari Bedi ± 1 km. Setelah Zainab menikah dengan Umar, oleh K. Ibrahim, Umar di buatkan sebuah Masjid di atas tanah milik orang tuanya Umar orang yang terkenal kaya raya saat itu, yaitu di Tamanan dan sekaligus harapan mbah Ibrahim agar Umar dapat membantu beliau dalam dakwah Islam di Polorejo.

Masjid itu terletak di tepi sungai selatan dukuh Pule Polorejo, dengan bangunan masjid yang sekarang letak masjid yang pertama itu berada di arah utaranya ± 100 m, dan sudah mengalami beberapa kali rehab dan sekaligus tiap kali rehab pindah pula tempatnya yaitu ke arah selatan, sehingga dekat dengan jalan besar, seperti yang ada sekarang ini.

Pernikahan Zainab dengan KH. Umar dikaruniai delapan orang putra dan putri yaitu :

  1. Abu Rozi lahir tahun 1910 menikah dengan seorang putri bernama Supiyah, kemudian mereka berdua berdomisili di Sudimoroharjo-Wilangan-Nganjuk.
  2. Abdul Rosyid atau H. Syarif lahir tahun 1912 menikah dengan Umi Saroh, berdomisili di Mentaos-Kertosono-Nganjuk.
  3. Sahlan lahir tahun 1914 menikah dengan Rusmiyatun berdomisili di Rejosari-Darungan-Pare-Kediri.
  4. Robi’atun lahir tahun 1916 berdomisili di Plalangan-Jenangan-Ponorogo.
  5. Qusyairi lahir tahun 1918 menikah dengan Djuwariyah berdomisili di Paron-Gampengrejo-Kediri.
  6. Roulah lahir tahun 1920 menikah dengan Munajat berdomisili di Tegalsari-Ngandong-Banyuwangi.
  7. K. Soebari lahir tahun 1922 menikah dengan Kadisah, mempunyai seorang anak kemudian furqoh lalu menikah lagi dengan Ny. Sami di karuniai lima anak putra dan putri, dan K. Soebari inilah yang kemudian menggantikan posisi KH. Umar sebagai Kyai Masjid Tamanan.
  8. K. Hayat lahir tahun 1924 menikah dengan Ny. Robi’ah berdomisili di Dukuh Tamanan Polorejo Babadan, dan beliau inilah yang akhirnya menggantikan kedudukan Kyai Masjid Tamanan sepeninggal K. Soebari, dan sekaligus Kyai yang terakhir dari keturunan K. Ibrahim yang menjadi Kyai di Masjid Tamanan, semenjak Masjid itu mengalami pemugaran total oleh masyarakat lingkungan Dukuh Tamanan.

Mengapa K. Hayat disebut sebagai Kyai terakhir dari keturunan K. Ibrahim di masjid Tamanan ?. Sebab setelah K. Hayat meninggal dunia putra-putranya yang laki-laki masih belum cukup umur untuk di angkat sebagai Kyai, tetapi ketika salah seorang putranya yang pertama dari pasangan K. Hayat dengan Hj. Maimunah yang bernama H. Syamsudin sudah dewasa, ia diangkat sebagai pejabat negara dan mengemban tugasnya di luar kota Jombang.

Kemudian pada tahun 1996 masjid Tamanan babadan mbah K. Ibrahim itu mengalami rehab total dari masyarakat Dukuh Tamanan, karena memang bangunannya sudah memerlukan pemugaran. Dan ketika itu adik H. Syamsudin yang bernama Imam Suhadi, masih di pandang terlalu muda untuk di jadikan Kyai, tetapi sebetulnya menurut penulis usia Imam Suhadi saat itu sudah pantas apabila di dudukkan menjadi Kyai, sebab usianya ketika tahun 1996 sudah mencapai 32 tahun. Sehingga sampai tulisan ini di terjunkan, siapa Kyai masjid Tamanan yang baku ?, sebagai jawabannya adalah “belum ada !”.

Hanya saja mungkin terbawa oleh watak bawaan secara nasab, sebagaimana wataknya mbah Ibrahim yang suka merendah diri, sabar, dan tidak suka riya’ apalagi takabur, Imam Suhadi tidak mau tampil sebagai Kyai sekalipun sudah diminta oleh masyarakat, dan mungkin merasa, bahwa masjid itu sudah menjadi milik masyarakat Dukuh Tamanan secara penuh, maka Kyainya lebih baik dari mereka.

Masjid Bakalan

Ketika putra KH. Ibrahim yang ke empat yaitu Ridlwan sudah usia dewasa, ia di nikahkan dengan seorang putri dari Kradinan Jetis Ponorogo yang bernama Taslimatun. Kemudian setelah beberapa waktu berumah tangga, mereka berdua oleh KH. Ibrahim di buatkan lahan untuk berdakwak agama Islam di suatu tempat yang tidak jauh dari Bedi, yaitu di Dukuh Bakalan. KH. Ibrahim mendirikan sebuah masjid di dukuh ini, dan sekaligus Ridlwan bersama istrinya harus menempati tempat yang baru yaitu di dukuh Bakalan sebagai Kyai di masjid yang baru didirikan oleh abahnya ini. Dan secara otomatis Ridlwanpun hidup berumah tangga bersama istrinya di Bakalan dan mengembangkan ajaran Islam disini yang selalu di tunggui abahnya yaitu KH. Ibrahim. Sebab KH. Ibrahim seusai membangun masjid di Bakalan ini beliau banyak menghabiskan waktunya di tempat tinggal anaknya ini (Bakalan), sampai usianya yang semakin tua, dan Pesantrennya yang ada di Bedi diserahkan pengelolaannya kepada anak menantunya dari Kradinan Jetis yang bernama K. Imam Rozi suami dari Ny. Syarifah anak bungsu KH. Ibrahim atau anak ke enam.

Sekalipun masjid Bakalan ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran, namun letak dan posisinya tidak mengalami perubahan, letak yang dahulu dan yang sekarang ya seperti itu adanya.

Sepeninggal K. Ridlwan kedudukan Kyai masjid Bakalan di gantikan oleh KH. Asyhuri, ia adalah putra kedua dari K. Ridlwan yang lahir pada tahun 1912 dan meninggal pada tahun 2007 M. Dan tampaknya sepeninggal K.Ashuri ini yang menggantikan kedudukan Kyai masjid Bakalan dari keturunan K. Ibrahimpun terancam putus, karena yang ada disana adalah anak-anak menantu, sedangkan kedua anaknya yang laki-laki yang pantas dan tepat menggantikan kedudukan K. Asyhuri sama menjadi pejabat negara. Yang satu KH. Muhaimin menjadi Kepala KUA di Gresik, dan yang satunya lagi yaitu K. Ahmad Syafi’i menjadi dosen di UNTAG Surabaya, dan kedua-duanya sudah berumah tangga di Surabaya.

Semoga pada kurun waktu mendatang tumbuh generasi-generasi penerus KH. Ibrahim di tempat-tempat babadnya. Amiin !.

Masjid Al-Ibrahim

Kurang lebih tahun 1878 M, putri KH. Ibrahim yang bungsu yang bernama Syarifah di nikahkan dengan Imam Rozi dari Kradinan Jetis Ponorogo putra K. Moh. Sayid putra K. Tafthojani. Imam Rozi adalah seorang santri yang memiliki ilmu agama yang memadai, sehingga ketika dia telah menikahi Syarifah lambat laun di beri kepercayaan oleh KH. Ibrahim untuk membantu ngaji di pondoknya, dan ketika mbah Ibrahim membangun Masjid untuk putranya di Bakalan, beliau banyak menghabiskan waktunya disana dan secara pelan-pelan Pesantren Bedi di serahkan penuh kepada Imam Rozi, dan perkembangan Pesantrenpun semakin baik dan jumlah santrinya juga bertambah banyak.

Pada usia yang semakin tua KH. Ibrahim, tidak lagi menempati rumah tempat tinggalnya yang berada di Bedi tetapi mengikuti anak lelaki satu-satunya di Bakalan yaitu K. Ridlwan, karena tampaknya Imam Rozi sudah cukup ilmunya untuk mengasuh Pesantren yang beliau dirikan, tetapi sekali tempo tidak jarang juga beliau datang ke Bedi melihat menjenguk para santrinya, dan beliau di sebut Kyai Sepuh. Pada tahun 1917 M bulan Jumadal Ula 1335 H, KH. Ibrahim menderita sakit karena tua, dan sampai pada ajalnya, beliau tutup usia dalam usianya yang ke 105 tahun. Cukup panjang memang usia mbah KH. Ibrahim ini dapat di bilang satu abad lebih lima tahun. Meninggal di rumah kediaman K. Ridlwan (Bakalan), setelah mendengar berita kematian Kyai sepuhnya ribuan santri dan juga masyarakat banyak yang datang ke kediaman K.Ridlwan untuk takziyah. Menurut cerita rakyat, jenazah K. Ibrahim saat akan di kuburkan di pekuburan Bedi tidak di usung dengan di pikul pakai keranda mayat (bandoso.jw) tetapi dengan cara ribuan santri dan anggota masyarakat berdiri berjajar dari rumah K. Ridwan sampai di pekuburan Bedi, secara berantai dari tangan ke tangan jenazah K. Ibrahim di usung oleh para santri dan anggota masyarakat tersebut, mereka sama berebut agar tangan mereka dapat ikut membopong jenazahnya KH. Ibrahim.

Karena KH. Ibrahim semasa tuanya banyak menghabiskan waktunya di Bakalan, dan beliau wafat juga di sana maka Masjid yang didirikan oleh beliau di Bakalan ini oleh alm. Mbah KH. Asyhuri dinamakan “AL-IBRAHIM”.

Peta Tiga Masjid yang didirikan oleh KH. Ibrahim (Buku TALI 2022, hlm. 22)

Bab 14 · hlm. 23–24

Surutnya Pondok Pesantren Bedi

Pada tahun 1900 pemerintah Belanda mendirikan sekolah desa swasta, atas perintah Asisten Wedana sekarang camat. Kemudian tahun 1903 pemerintah Belanda mulai membuka Sekolah Desa tiga tahun di Desa Banyudono dan di Desa Brotonegaran, lalu tahun 1904 di desa Bangunsari, dan guru-gurunya dari Madiun yang dinamakan Premi Opleideng, dan pada tahun 1911 Ponorogo sudah dapat meluluskan guru sekolah Desa dua tahun.

Kemudian pada tahun 1904 Sekolah ongko I dirubah menjadi sekolah HIS (Holand Indische School) dimana pada sekolah ini yang dapat diterima menjadi murid hanyalah anak-anaknya kaum priyayi, dan bahasa dasarnya adalah bahasa Belanda. Tahun 1905 sekolah ongko II Bangunsari menerima murid-murid dari anak-anaknya kaum petani dan swasta. Dan selanjutnya pemerintah Belanda membuka sekolah-sekolah Desa diluar Kota, termasuk di Desa Polorejo oleh Belanda didirikan Sekolah Desa tiga tahun.

Pada masa penjajahan Belanda ini anak-anak sekolah dipisah-pisahkan, anak kaum priyayi tidak boleh satu sekolah dengan anak kaum petani dan swasta, anak kaum priyayi sekolahnya di HIS (sekolah Belanda), sedangkan anak kaum petani dan kaum swasta harus sekolah di Sekolah Desa tiga tahun kemudian ditambah 2 (dua) tahun Sekolah ongko II, anak kaum petani dan swasta boleh sekolah di sekolahan HIS jika ia mempunyai gelar Raden.

Karena tekanan Belanda, bahwa anak kaum petani juga kaum swasta harus di sekolahkan di sekolah desa tiga tahun, dan dengan fasilitas gedung sekolah yang permanen begitu pula para pamong desa yang diperintahkan agar setiap hari menggiring anak-anak kaum petani masuk sekolah desa tiga tahun maka hal inilah yang menyebabkan Pondok Pesantren di Bedi ini mengalami surut.

Pada tahun 1926 atau sembilan tahun setelah meninggalnya KH. Ibrahim, berdirilah pondok modern Gontor, di mana pemerintah Belanda kemudian mendirikan pula sekolah-sekolah umum yang menerima murid dari berbagai kalangan, baik itu anak priyayi maupun petani dan swasta dapat sekolah umum ini. Setelah pemerintah Belanda mendirikan sekolah umum golongan masyarakat yang beragama Islam juga ikut mendirikan sekolah swasta bernafaskan Islam, diantaranya dari organisasi Muhammadiyah dan di susul oleh Nahdlatul Ulama’ juga mendirikan Sekolah Dasar.

Pondok Pesantren Bedi ketika itu merupakan pondok yang sangat tradisional, bangunan KBM (Kegiatan Belajar & Mengajar)nya terdiri dari bangunan angkring yang terbuat dari pohon-pohon batang bambu dan beratapkan anyaman pelepah daun kelapa dan damen (batang padi kering) begitu pula bangunan pondok penginapan para santri. Kemudian sepeninggal KH. Ibrahim tahun 1917 M, pondok pesantren Bedi dilanjutkan oleh putra menantunya yang berasal dari Desa Kradinan Jetis Ponorogo yaitu KH. Imam Rozi, yang masih punya jalur nasab sampai pada K. Noyopuro (guru K. Mohammad Kasan Besari Tegalsari Jetis), dia adalah suami Ny. Hj. Syarifah anak bungsu KH. Ibrahim, dengan urutan nasab sebagai berikut :

  1. Syaikh Jamaludin Jumadal Kubra – Trowulan berputra
  2. Sayid Maulana Ibrahim Asmorokondi – Tuban berputra
  3. Syaikh Maulana Ishaq – Malaysia berputra
  4. Sayid Abd. Qodir Pandanarang I – Semarang berputra
  5. Sunan Tembayat Pandanarang II – Klaten Jateng berputra
  6. Ki Ageng Sumendhe – Setono Jetis Ponorogo berputra
  7. Pangeran Kabu – Setono Jetis Ponorogo berputra
  8. Prabu Ratmaja – Setono Jetis Ponorogo berputra
  9. Kyai Noyodipuro – Setono Jetis Ponorogo berputra
  10. Kyai Isma’il – Kradinan Jetis Ponorogo berputra
  11. Kyai Mardliyah – Kradinan Jetis Ponorogo berputra
  12. Kyai Tafthojani – Kradinan Jetis Ponorogo berputra
  13. Kyai Mohammad Sayid – Kradinan Jetis berputra
  14. Kyai Haji Imam Rozi – Bedi Polorejo

Jika di urut nasab KH. Imam Rozi dari silsilah Ibu, ia masih ada jalur nasab dengan Raden Bethoro Katong, dengan urutan sebagai berikut :

  1. Prabu Brawijaya V Bhre Kertabumi–Majapahit berputra
  2. Bethoro Katong Bupati Ponorogo berputri
  3. Ny. Ageng Sumendhe berputra
  4. Pangeran Kabu – Setono Jetis Ponorogo berputra
  5. Prabu Ratmaja – Setono Jetis Ponorogo berputra
  6. Kyai Noyodipuro – Setono Jetis Ponorogo berputra
  7. Kyai Isma’il – Kradinan Jetis Ponorogo berputra
  8. Kyai Mardliyah – Kradinan Jetis Ponorogo berputra
  9. Kyai Tafthojani – Kradinan Jetis Ponorogo berputra
  10. Kyai Mohammad Sayid – Kradinan Jetis berputra
  11. Kyai Haji Imam Rozi – Bedi Polorejo

Ketika pondok pesantren Bedi diasuh oleh KH. Imam Rozi ini mulai terjadi persaingan pendidikan antara pesantren angkringan dengan pendidikan formal yang sudah di dirikan oleh pemerintah Belanda di desa-desa di kabupaten Ponorogo, sehingga karena keterbatasan sarana dan prasarana ketika itu, maka lambat laun pesantren Bedi semakin surut dan terus menyurut hingga tinggal bekas yang dapat menyisakan sejarah dunia pesantren di daerah Ponorogo Utara, dan diikuti pula dengan meninggalnya KH. Imam Rozi sekitar tahun 1940 M.

Bab 15 · hlm. 30

Pondok Pesantren Setono, Jetis Ponorogo

KH. Ibrahim bila diurutkan nasabnya dari garis neneknya yaitu Ny. Nawawi Majasem adalah masih keturunan Kyai Ageng Noyodipuro dari Desa Setono Jetis Ponorogo, alias buyut dari Pangeran Sumendhe yang babad desa Setono. Pangeran Sumendhe adalah putra S. Muhammad Hidayatullah alias Sunan Pandanarang II alias Sunan Tembayat, yang meninggal dan dimakamkan di Mbayat Klaten Yogjakarta.

Pangeran Sumendhe mempunyai anak K. Pangeran Kabu mempunyai anak K. Pangeran Ratmojo mempunyai tiga orang anak:

  1. K. Ageng Donopuro
  2. K. Ageng Noyopuro
  3. Ny. Mukminah

K. Donopuro mendirikan pondok pesantren dan masjid di tanah babadan eyang buyutnya (P. Sumendhe), beliau seorang Kyai yang berwatak “Berbudi bawa laksana”, namanya terkenal dan sangat ’alim, tidak hanya ahli Al-Qur’an tetapi juga ahli dan ilmu bathin. Kemajuan pesantrennya dibantu oleh saudara lelakinya yaitu K. Ageng Noyopuro.

Para santri di pondok ini tidak hanya dari daerah kota Ponorogo, tetapi juga banyak dari luar daerah, termasuk Mohammad Kasan Besari beserta adiknya yang bernama Nor Shodiq berasal dari desa Kuncen Caruban Madiun. Keduanya adalah putra K. Anom Besari.

Mohammad Kasan Besari terkenal tekun dan sregep, tidak berapa lama mondok di pesantren Setono ini sudah hafal Al-Qur’an dengan maknanya (artinya). K. Donopuro sangat menaruh perhatian kepadanya, karena beliau tidak punya keturunan. Yang mana akhirnya santri kesayangannya dinikahkan dengan putri keponakannya sendiri yaitu anak putrinya Ny. Mukminah istri dari K. Nur Salim.

K. Nor Salim adalah putra dari Pangeran Buntoro alias K. Dhugel Kesambi dari Ngloning putra dari R. Tumenggung Joyonegoro Bupati Gadingrejo Tamansari Sambit Ponorogo. K. Nor Salim juga memiliki pondok pesantren di Desa Ngasinan dukuh Mantub sehingga beliau mendapat sebutan Kyai Mantub di mana letaknya tidak jauh dari pesantrennya K. Donopuro ± 2,5 km arah selatan desa Setono Jetis.

Setelah beberapa bulan dari pernikahan Mohammad Kasan Besari berjalan K. Donopuro, memberikan perintah kepadanya agar ia mulai babad hutan belantara dan hendaknya ia babad hutan itu memulainya dari tanah tegal miliknya K. Donopuro, yang terletak di arah timur pondok Setono tidak jauh jaraknya hanya dibatasi oleh sebuah sungai. Karena itu setelah babad hutan selesai ia kemudian mendirikan sebuah Langgar, lalu tempat babadannya diberi nama “Tegalsari” (9).

Lama kelamaan Mohammad Kasan Besari oleh K. Donopuro disuruh mendirikan pondok pesantren dan Langgarnya dirubah menjadi Masjid. Setelah pondok yang didirikan oleh K. Mohammad Kasan Besari jadi, K. Donopuro meninggal dunia dan disusul oleh K. Ageng Noyopuro, yang mana akhirnya para santri sama boyong ke pondok K. Mohammad Kasan Besari di Tegalsari.

Dengan melihat sejarah jauh ke belakang, tidak salah jika KH. Ibrahim adalah seorang yang hafal Al-Qur’an sekaligus penulis Kitab Al-Qur’an dengan baik, karena melihat asal usul nenek moyangnya dari pondok pesantren Setono Jetis Ponorogo, Kyainya juga ahli Al-Qur’an.

Bab 16 · hlm. 31

Kitab-Kitab Peninggalan KH. Ibrahim

  1. Al-Qur’an Juz Amma tulisan tangan KH. Ibrahim
  2. Al-Qur’an 30 Juz tulisan tangan KH. Ibrahim
  3. Hadits tulisan tangan KH. Ibrahim ketika usia 11 tahun
  4. Fiqih:
    • a. Taqrib tulisan tangan KH. Ibrahim
    • b. Fathul Qorib tulisan tangan KH. Ibrahim
    • c. Tahdzib tulisan tangan KH. Ibrahim
    • d. Al-Bajuri tulisan tangan KH. Ibrahim
  5. Tauhid
  6. Do’a - Do’a

Semua kitab tulisan tangan almarhum KH. Ibrahim Ghozali yang masih tersisa ini dapat dihimpun kembali oleh para buyut dan canggah KH. Ibrahim dan disimpan pada sebuah almari khusus diisi dengan Kitab-kitab peninggalan almarhum mulai 20-Robi’ul Awal-1432 H/24-Pebruari-2011 M, dan dapat dilihat oleh kalangan keluarga atau masyarakat umum di Serambi Masjid Bedi.

Ketik nama atau NIT · Esc untuk menutup

Menu

Sejarah

Silsilah

Warisan

Keluarga