Rumah Allah
المساجد
Tiga Masjid KH. Ibrahim
Beliau mendirikan masjid di Bedi, lalu untuk menantunya di Tamanan dan putranya di Bakalan — ditambah masjid ayahnya di Cokromenggalan.
01 · ±1848–1849
Masjid Bedi · Masjid Ibrahim Al-Ghozali
📍 Bedi, Polorejo, Babadan, Ponorogo
- Didirikan bersama rumah dan Pondok Pesantren Bedi ketika KH. Ibrahim membuka hutan Bedi. Makam keluarga berada di belakang masjid; KH. Ibrahim dimakamkan di sini (1917).
- Sejak 24 Februari 2011 kitab-kitab tulisan tangan beliau disimpan di almari khusus di serambi masjid.
- Tuan rumah Silatul Arham V (3 Juli 2011).
02 · abad ke-19
Masjid Tamanan
📍 Tamanan, Polorejo, Babadan, Ponorogo
- Dibangun untuk menantu beliau, KH. Umar (suami Zainab, Bani 2).
- Saubari (2.7) menggantikan KH. Umar sebagai kyai masjid; Hayat (2.8) adalah kyai terakhir Masjid Tamanan dari keturunan KH. Ibrahim.
- Direhab total oleh masyarakat pada 1996.
03 · abad ke-19
Masjid Al-Ibrahim · Masjid Bakalan
📍 Bakalan, Polorejo, Babadan, Ponorogo
- Dibangun untuk putra beliau, KH. Ridlwan (Bani 4).
- Di sinilah KH. Ibrahim wafat pada Jumadal Ula 1335 H (1917). Ribuan santri berbaris dari Bakalan ke Bedi, mengusung jenazah beliau berantai dari tangan ke tangan.
- KH. Asyhuri (4.2; 1912–2007), kyai Masjid Bakalan, menamainya “Al-Ibrahim”.
04 · 1830
Masjid KH. Ghozali · Cokromenggalan
📍 Cokromenggalan, Ponorogo
- Masjid ayah beliau, KH. Imam Ghozali. Bangunannya berasal dari lumbung jati Tumenggung Brotonegoro yang dipindahkan ke Cokromenggalan pada 1830.
- Pada pemugaran 2007, empat tiang lumbung asli menjadi bagian kisahnya.
- K. Mohammad ‘Adnan (4.1) pernah menjadi kyai masjid ini.