Hikmah
قصص وعبر
Kisah & Teladan
Dua belas kisah singkat tentang KH. Ibrahim Ghozali — ilmu, akhlak, dan kasih sayangnya kepada sesama makhluk.
- 01
Asal-Usul & Masa Muda
Lahir 1812 di Cokromenggalan, putra sulung KH. Ghozali bin K. Nawawi (Majasem) dengan Ny. Majasem. Belajar membaca-menulis Arab dan Al-Qur'an kepada ayahnya yang hafiz, lalu mondok di Pesantren Tegalsari di bawah asuhan Kyai Ageng Raden Hasan Besari — sezaman dengan santri pujangga R. Ng. Ronggowarsito. Sepulang dari Tegalsari, ia membantu mengajar di pesantren ayahnya dan dijodohkan dengan santriwati yang tawadhu', Ny. Sudjinah.
Buku TALI 2022, hlm. 8
- 02
Haji & Menuntut Ilmu di Makkah
Sekitar 1840 berangkat haji dengan kapal layar dari Tanjung Perak (dikemudikan pelaut Madura), setahun sebelum Dzulhijjah. Delapan tahun di Makkah mendalami tafsir, hadis, fiqh Syafi'i, hafalan Al-Qur'an, serta khat dan kaligrafi. Sezaman dengan Syaikh Ahmad Khotib (Minangkabau), Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfudz Termas, dan KH. Syamsul Arifin (Situbondo). Skripsi UINSA 2022 mencatat gurunya Syaikh Ahmad Khatib as-Sambasi.
Buku TALI 2022, hlm. 8
- 03
Hadiah Tumenggung Brotonegoro
Sekitar 1824 KH. Ghozali membela Tumenggung Brotonegoro, Bupati Polorejo, dari fitnah di hadapan Raja Solo. Sebagai balasan ia dihadiahi tiga hal: putri tumenggung yang menjanda, lumbung padi dari kayu jati (dipindah ke Cokromenggalan dan dijadikan masjid tahun 1830), dan sebidang tanah hutan angker di timur laut katemenggungan — tanah yang kelak diserahkan kepada Ibrahim.
Buku TALI 2022, hlm. 9
- 04
Babad Alas Bedi
Karena tawadhu' dan enggan menggantikan ayahnya selama sang ayah masih hidup, Ibrahim diberi tanah hutan hadiah Brotonegoro. Bersama istrinya ia membabat hutan yang terkenal angker. Gangguan makhluk halus (genderuwo, wewe, memedi) ditundukkan dengan doa dan wirid, lalu 'ditempatkan' pada sebatang pohon di tenggara masjid. Dari kata 'memedi' → 'medi' → 'mbedi' lahirlah nama Bedi (±1848–1849).
Buku TALI 2022, hlm. 10
- 05
Santri Mbeling & Adipati Cokronegoro
Santri Bedi terkenal pemberani. Suatu kali ratusan santri memikul bambu dari Bakalan sambil bersorak dan memalangkan bambu di jalan — tanpa sadar mengolok-olok rombongan Adipati R.M.T. Cokronegoro I. Sepekan kemudian Kyai Ibrahim dipanggil; dengan sabar ia memohonkan maaf. Sang Adipati — putra Kyai Hasan Besari Tegalsari — memaafkan tanpa sanksi.
Buku TALI 2022, hlm. 14
- 06
Memuliakan Pencuri
Tiga pencuri yang masuk rumah justru 'tersesat di hutan' semalaman lalu tertidur di lantai kamar Kyai. Kyai tidak memanggil santri; ia menyembelih ayam jago, meminta Nyai memasak, lalu mengajak para pencuri sarapan, membekali masing-masing sebathok beras, dan berterima kasih karena 'telah menjaga rumahnya semalaman'. Mereka bertaubat. Kisah serupa: pencuri kelapa yang 'tak bisa turun', dan semut geni yang menggagalkan lima galian maling.
Buku TALI 2022, hlm. 15
- 07
Harga Sebuah Mushaf
Al-Qur'an masih langka di Jawa. Sepulang dari Makkah (1847) dengan sebuah mushaf, KH. Ibrahim menyalin Al-Qur'an selepas tahajud dengan pena sodo aren dan tinta bak. Mushaf pertama selesai setahun; pesanan seorang santri selesai enam bulan dengan imbalan dua ekor sapi — dijual untuk membangun pondok, tempat wudhu dan memperbaiki masjid. Pemesan dari Banyuwangi dan Kedu memberi hingga Rp 50 (seekor sapi ±Rp 10). Disebut ia menyalin 11 mushaf semasa hidup. Kajian kodikologi (Nun 7(1), 2021) mendapati kertas Eropa ber-watermark Heelsum, Belanda, rasm campuran utsmani–imla'i, dan qiraat 'Ashim riwayat Hafs.
Buku TALI 2022, hlm. 16
- 08
Kasih kepada Sesama Makhluk
Ia tidak mengusir ayam yang memakan padi jemurannya. Bila burung bertengger atau mencari makan di jalan yang akan dilalui, ia menunggu atau memilih jalan lain: 'Pilih golek dalan liyo, katimbang ganggu manuk sing lagi golek pangan.'
Buku TALI 2022, hlm. 17
- 09
Mbah Kombong & Santri 12 Tahun
Santri dari Bagelen, Purworejo, yang tak pernah keluar dari kombong (bilik) kecuali untuk mengaji — hingga dijuluki Kombong. Ia membujang dan berjanji mengabdi hingga mati; ia satu-satunya santri yang wafat di Bedi dan yang pertama dimakamkan di tanah pribadi Kyai, yang kemudian diwakafkan sebagai pemakaman umum. Ada pula Mbah Noer dari Tamanan, 12 tahun tak pulang padahal rumahnya hanya 1 km — hingga ayahnya menjual seekor kerbau untuk memesan kitab tulisan Kyai.
Buku TALI 2022, hlm. 17
- 10
Tiga Masjid Warisan
Selain Masjid Bedi, KH. Ibrahim membangun masjid di Tamanan untuk menantunya KH. Umar (suami Zainab) — kemudian diimami K. Saubari dan K. Hayat — serta masjid di Bakalan untuk putranya KH. Ridlwan, yang kemudian dinamai 'Al-Ibrahim' oleh KH. Asyhuri (1912–2007). Pesantren Bedi diserahkan kepada menantunya KH. Imam Rozi (suami Hj. Syarifah).
Buku TALI 2022, hlm. 20
- 11
Wafat & Jenazah Berantai
Jumadal Ula 1335 H (1917 M), dalam usia ±105 tahun, KH. Ibrahim wafat di rumah KH. Ridlwan, Bakalan. Ribuan santri dan warga berdiri berjajar dari Bakalan sampai pemakaman Bedi; jenazah diusung berantai dari tangan ke tangan, semua berebut ikut membopong. Pesantren Bedi kemudian surut akibat sekolah desa Belanda (1900-an) dan berakhir dengan wafatnya KH. Imam Rozi (±1940).
Buku TALI 2022, hlm. 22
- 12
Perang Brotonegoro 1825
Ketika pasukan Diponegoro singgah di Polorejo (1825), Belanda kemudian menyerbu. Brotonegoro membangun menara pengintai bambu (asal nama Bakalan), memukul gong demung (Demung), kudanya 'ndigar-ndigar' (Tegari), dan prajurit tersesat melihat lampu 'kelip-kelip' (Sekelip). Akhirnya ia terkepung di Gunung Gombak berbulan-bulan hingga wafat; bukit itu disebut Bukit Larangan. Bekas medan perangnya disebut Tilasan.
Buku TALI 2022, hlm. 11